Pada 5 Mei 2026, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025. Angka utamanya: penduduk Indonesia mencapai 284,67 juta jiwa, naik dari 237,64 juta pada Sensus Penduduk 2010. Yang lebih ramai dibicarakan bukan soal jumlah totalnya, melainkan komposisinya — Generasi Z tercatat sebagai kelompok generasi terbesar dengan porsi 24,93%, disusul Generasi Milenial di angka 24,34%. Digabung, dua generasi muda ini mencakup hampir separuh populasi nasional.
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menyebut temuan ini mencerminkan dominasi kelompok usia produktif dalam struktur demografi saat ini.
Tapi sebagai orang yang berkutat dengan data, angka headline seperti ini justru seharusnya memancing pertanyaan lanjutan: dari mana angka ini berasal, dan seberapa jauh kita boleh menariknya menjadi kesimpulan?
SUPAS Bukan Sensus — dan Itu Penting
Poin metodologis pertama yang sering terlewat: SUPAS adalah survei berbasis sampel, bukan sensus penuh. Berbeda dari Sensus Penduduk (SP) yang mendata seluruh populasi, SUPAS mengambil sampel rumah tangga di antara dua periode sensus untuk mengisi kekosongan data satu dekade.
Implikasinya untuk pembacaan angka:
- Setiap persentase yang dirilis (24,93% untuk Gen Z, misalnya) adalah estimasi, bukan hitungan pasti — punya margin of error meski BPS tidak selalu mempublikasikan interval kepercayaannya di rilis pers. - Desain sampling (stratifikasi wilayah, bobot survei) menentukan seberapa representatif angka nasional ini terhadap variasi antarprovinsi. Angka 24,93% adalah rata-rata tertimbang nasional — bukan berarti setiap provinsi punya komposisi generasi yang sama. - Persebaran penduduk yang masih terkonsentrasi di Jawa (55,65%) berarti angka nasional secara alami condong merepresentasikan pola demografi Jawa dibanding wilayah lain. ## Membaca Angka Generasi Secara Kritis
Beberapa temuan lain dari SUPAS 2025 yang relevan untuk melengkapi gambaran:
- Struktur usia bergeser. Proporsi usia produktif (15–64 tahun) naik dari 66,09% (SP 2010) menjadi 68,94% (2025). Sebaliknya, kelompok usia 0–14 tahun turun dari 28,87% menjadi 23,44%. - *Indonesia mulai memasuki fase aging population.* Porsi lansia naik dari 7,59% (2010) menjadi 11,97% (2025) — melewati ambang 10% yang menandai transisi demografi menuju populasi menua. - Rasio ketergantungan berada di 45,05 — artinya setiap 100 penduduk usia produktif menanggung sekitar 45 penduduk nonproduktif. Ini yang mendasari klaim "bonus demografi": rasio ketergantungan rendah membuka jendela peluang ekonomi, tapi jendela ini menyempit seiring populasi menua. - Laju pertumbuhan penduduk melambat ke 1,08% per tahun (lima tahun terakhir), turun dari 1,10% sebelumnya, sejalan dengan TFR (total fertility rate) yang melandai ke 2,13 kelahiran per perempuan. Satu hal yang patut dicatat: definisi rentang tahun kelahiran tiap generasi (Gen Z, Milenial, dst.) tidak sepenuhnya baku — beberapa lembaga memakai batas tahun yang sedikit berbeda. Ini bukan soal BPS salah, tapi pengingat bahwa label generasi adalah konstruksi sosial, bukan kategori statistik yang presisi seperti kelompok umur 5 tahunan. Saat membandingkan angka dari sumber berbeda, definisi kohort perlu dicek dulu sebelum disandingkan.
Kenapa Ini Penting Buat yang Kerja dengan Data
Untuk siapa pun yang membangun model atau analisis berbasis data survei nasional (Susenas, SUPAS, atau turunannya), rilis SUPAS 2025 ini punya beberapa implikasi praktis:
- Bobot generasi dalam sampel akan bergeser. Studi apa pun yang menggunakan data rumah tangga terbaru perlu mempertimbangkan bahwa populasi target kini lebih muda dan lebih urban dibanding satu dekade lalu.
- Waspada ecological fallacy.* Angka nasional 24,93% tidak bisa langsung dipakai untuk menyimpulkan komposisi generasi di level kabupaten/kota tertentu — variasi regional (desa vs kota, Jawa vs luar Jawa) bisa jauh dari rata-rata nasional.
- Rasio ketergantungan yang menyempit relevan untuk proyeksi kebijakan berbasis data — mulai dari perencanaan tenaga kerja sampai desain program jaminan sosial untuk populasi lansia yang tumbuh.
Daftar pustaka
- Badan Pusat Statistik. (2026). Hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025. Jakarta: BPS.
- Karina, D. (2026, 5 Mei). Supas BPS 2025: Penduduk RI 284,67 Juta, Gen Z dan Milenial Mendominasi. Kompas.tv. https://www.kompas.tv/nasional/667060/supas-bps-2025-penduduk-ri-284-67-juta-gen-z-dan-milenial-mendominasi
- CNBC Indonesia. (2026, 5 Mei). RI Dikuasai Gen Z, Milenial Minggir! https://www.cnbcindonesia.com/news/20260505133822-4-732406/ri-dikuasai-gen-z-milenial-minggir
- Babel Insight. (2026, 6 Mei). Struktur Penduduk Indonesia Didominasi Gen Z dan Milenial. https://www.babelinsight.id/dominasi-gen-z-milenial-indonesia
- Dinas Kominfo Kabupaten Kubu Raya. (2026, 19 Mei). Struktur Penduduk Indonesia Didominasi Generasi Muda Berdasarkan Data SUPAS 2025. https://kominfo.kuburaya.go.id/struktur-penduduk-indonesia-didominasi-generasi-muda-berdasarkan-data-supas-2025
- Databoks Katadata. Proporsi Populasi Generasi Z dan Milenial Terbesar di Indonesia. https://databoks.katadata.co.id/demografi/statistik/7ae7f59c2a738bb/proporsi-populasi-generasi-z-dan-milenial-terbesar-di-indonesia
- Badan Pusat Statistik. (2024). Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2024 — Tinjauan Kelas Menengah. Jakarta: BPS.